Pemberantasan Kemiskinan di Indramayu

Budaya masyarakat agraris menjadikan angka kemiskinan di Indramayu tinggi. Kemungkinan sampai 40 persen keluarga di Indramayu tergolong kategori miskin. Oleh karena itu, yang harus diubah adalah pola pikir masyarakatnya. Kebiasaan menggelar hajatan besar-besaran dan budaya konsumtif masyarakat juga merupakan salah satu penyebab bertahannya angka keluarga miskin itu. Pola berpikir kreatif dan produktif belum banyak dimiliki warga Indramayu sehingga mereka cenderung bergantung pada alam, tanpa ada upaya lebih. Bagi mereka, tanpa modal, usaha produksi tidak bisa berjalan.

Pola pikir ini harus segera diubah dengan reformasi pendidikan yang bisa dijadikan sarana untuk mengubah kultur masyarakat Indramayu menjadi berkultur produktif. Melalui pendidikan, ke depan diharapkan mampu mengurangi jumlah ketergantungan penduduk Indramayu terhadap faktor alam. Bila saat ini Indramayu dikenal sebagai pengekspor TKW maka kedepannya hanya orang-orang yang memiliki skill dan kemampuan khusus yang akan dikirim menjadi TKW. Demikian seterusnya, hingga pendidikan mampu memberikan paradigma baru bagi kehidupan masyarakat Indramayu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: