Toleransi & Kerukunan Beragama

Banyak anggapan bahawa problem kerukunan hanyalah persoalan teologis semata. Sehingga, bentuk usaha penciptaan kerukunan adalah melalui pengaturan prosedur pendirian rumah ibadah dan dialog antar tokoh elite agama. Dari kedua usaha tersebut banyak kalangan memandang bahwa persoalan kerukunan antar kelompok social keagamaan semata-mata sebagai masalah ”ritual” dan “teologis”.

Konflik antar umat beragama tidak hanya terkait dengan konsep teologis namun Ia bisa terkait dengan masalah kesenjangan ekonomi, kebudayaan, pendidikan dan bahkan politik. Lebih jauh, dialog-dialog teologis antar tokoh pimpinan agama tidak serta-merta mendekatkan hubungan antar individu penganut kelompok sosial keagamaan. Bahkan, massa pengikutnya sering tidak cukup memahami kedekatan dan kemsraan hubungan yang ditampilkan para elite sosial keagamaan pimpinan mereka.

Pendekatan lain dalam penciptaan kerukunan adalah konsep kerukunan inklusif. Pendekatan ini diaangap sebagai solusi jitu karena yang namanya keragaman harus diatasi dengan menutup sekat-sekat interaksi antar berbagai nilai dan entitas keanekaan. Masyarakat boleh berinteraksi di ruang publik, tetapi tetapi tidak harus menggunakan atribut kelompok, harus ada bahasa public yang berlaku umum. Dengan demikian, setiap individu akan berada dalam peleburan nilai.

Perspektif model ini pernah diterapkan Orde Baru dengan mengharamkan masalah-masalah berbau SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) di bicarakan di ruang publik. Perspektif kerukunan inklusif bukannya memperkokoh kerukunan, malah justru menyuburkan kecurigaan dan kebencian karena masing-masing tidak saling mengetahui. Ketiadaan komunikasi dan minimalnya interaksi antar dan intra kelompok sosial keagamaan telah menyebabkan mereka saling terasing, kendati mereka hidup berdampingan di suatu wilayah geografis yang sama, mereka ternyata kurang saling mengenal satu sama lain.

Keadaan seperti ini memang telah berhasil meminimalkan konflik antar dan intra kelompok sosial keagamaan. Hal ini terutama dimungkinkan oleh kuatnya peran control dari negara, khususnya lewat aparatur keamanan, yang selalu sigap meredam setiap gejala kesalah pahaman atau bahkan konflik antar dan intra kelompok sosial keagamaan. Itulah sebabnya, kerukunan yang seolah selama itu, kenyataannya seperti api dalam sekam, di mana di permukaan seolah damai dan tenang, namun di bagian dalam justru membaca.

Kegagalan dua model pendekatan di atas tampak nyata dalam berbagai kasus kekerasan dan anti-kerukunan yang terjadi beberapa tahun belakangan ini. Padahal, sejak reformasi, pendekatan represif terhadap berbagai keagamaan, khususnya agama telah ditinggalkan. Di satu sisi, era keterbukaan membawa dampak maraknya politik identitas. Tetapi pilihan instrument toleransi yang bersifat teologis juga tampak tidak tepat sasaran, di sisi lain. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih holistic. Berbagai konflik dan kekerasan atas nama agama tersebut tidak harus dipandang sebagai persoalan identitas agama semata, tetapi juga terkait dengan persoalan sosial yang lain.

Dalam hal ini, kesenjangan ekonomi, politik dan budaya harus betul-betul mendapat porsi perhatian yang lebih besar. Di sisi lain, pendekatan inklusif harus ditingkatkan menjadi pendekatan yang pluralis. Pluralisme tidak mengandaikan bahwa semua perbedaan harus dileburkan dalam satu indentitas tunggal, seperti proyek”budaya nasional” atau identitas nasionalnya Orde Baru. Semua perbedaan harus mendapat tempat pengakuan dalam kehidupan publik. Perbedaan tidak hanya harus diakui, melainkan juga diangkat dan dirayakan. Pluralisme tidak harus mencari titik temu persamaan, sebab perbedaan adalah keniscayaan. Yang lebih penting dilakukan adalah bagaimana hidup damai dalam perbedaan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: