Antisipasi Bencana Alam

Seringnya terjadi bencana alam di wilayah Kabupaten Indramayu, sejumlah warga mengharapkan pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten lebih serius lagi menanganinya.

Walau bagaimana pun yang merasakan penderitaan akibat bencana alam itu adalah masyarakat. Oleh karena itu perhatian dari pemerintah harus lebih besar lagi. Termasuk penambahan angaran dan peralatan yang memadai untuk menanggulangi bencana alam khususnya banjir itu. Dampak dari banjir sangat menyengsarakan banyak orang serta mematikan tanaman padi yang menjadi satu-satunya sumber kehidupan sebagian besar masyarakat di desa.

Siapapun menyadari tak seorangpun yang berharap bencana alam itu dating apalagi menimpanya. Namun jika bencana alam yang tak diharap itu kadung datang, maka sudah pasti semuanya harus menerima resikonya. Meski demikian perhatian dan langkah-langkah yang diambil pemerintah dalam penanganan banjir cukup bagus hal ini terlihat saat beberapa bulan yang lalu saat terjadi banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Saradan di Desa Muntur, Kecamatan Losarang, beberapa waktu lalu merendam ratusan hektar tanaman padi di sejumlah desa di Kecamatan Losarang dan Kandanghaur.

Dalam waktu singkat, sejumlah titik tanggul Sungai Saradan yang kritis yang jebol sudah normal lagi ditangani alat berat exsavator atau beko. Penanganan yang serba cepat itulah yang diharapkan masyarakat saat bencana alam banjir itu datang.

Dalam evakuasi Pemkab Indramayu juga memperhatikan kebutuhan pengungsi termasuk setiap saat menyiapkan bahan pangan, obat-obatan termasuk selimut dan peralatan medis lainnya untuk membantu mengatasi penderitaan warga yang menjadi korban bencana alam seperti puting beliung. Warga korban puting beliung tak hanya memerlukan bantuan bahan makanan, obat-obatan dan selimut. Mereka pun butuh bantuan material dan dana guna merehabilitasi kembali rumahnya yang rusak atau roboh disapu angin puting beliung itu.

Selama ini diakui bantuan dari Pemkab Indramayu itu sudah diterima masyarakat walaupun jumlahnya relatif terbatas. Setiap rumah warga yang roboh karena bencana alam angin puting itu memerlukan uluran tangan pemerintah paling sedikit Rp10 juta untuk kebutuhan membayar upah tenaga kerja dan pembelian material seperti semen dan genteng yang hancur.

Langkah antisipasi rob juga pernah dilakukan di Desa Eretan Kulon dengan membendung areal pemukiman penduduk di desanya. Hal itu untuk menghindari bencana alam karena air laut pasang atau rob. Rob di desa itu sudah sering terjadi. Bahkan terkesan sudah menjadi langganan warga yang muncul setiap akhir hingga awal tahun.
Rob sudah lama terjadi, akan tetapi perhatian pemerintah pusat belum maksimal. Akibatnya banyak warga yang tinggal di daerah pantai atau pesisir seperti Desa Eretan Kulon yang sebagian besar rakyat miskin itu sering jadi korban.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: